Kontribusi untuk Negeriku

Laut dan matahari merupakan kombinasi alam yang menarik. Matahari mengagumi cara laut mempertahankan surga di dalamnya. Begitupun laut mengapresiasi pancaran sinar matahari yang memberi kehangatan makhluk hidup di bumi. Tentunya mereka memberi keseimbangan pada proses alam yang sangat luar biasa. Bagi saya, alam merupakan tempat mengabdi dan berpulang.

Sebagai anak sulung, saya memikul tanggung jawab yang cukup besar. Sikap dan sifat saya barangkali akan menurun pada adik-adik saya. Saya harus bisa menjadi teladan yang baik bagi adik-adik saya. Tentunya, tanggung jawab seorang anak adalah untuk menaikkan derajat kedua orang tua. Salah satu cara yang saya tempuh untuk memenuhi tanggung jawab adalah dengan menuntut ilmu. Menuntut ilmu bagi saya merupakan fase pembentukan karakter, perluasan wawasan, dan pertajam analisis masalah. Ketiga komponen itu menjadi pedoman saya menuntut ilmu hingga ke Institut Pertanian Bogor, tempat yang sangat erat dengan alam, rumah bagi siapapun yang hendak singgah menikmati hasil karya-Nya.

Orang tua adalah harta termahal yang pernah saya miliki. Orang tualah yang selama ini banting tulang menghidupi saya dan adik-adik. Mereka adalah seorang pendidik terbaik segala ilmu. Sampai pada akhirnya sistem pendidikan mewajibkan saya untuk merasakan bangku sekolah dasar yang letaknya tidak jauh dari rumah. Saya bertemu teman-teman sebaya dan kami menjalin interaksi dengan sangat baik. Saya pun tergabung dalam tim rebana yang senantiasa tampil membawakan lagu-lagu islami sebagai bentuk akulturasi budaya di Indonesia. Menginjak bangku SMP, saya mulai memasuki fase pendewasaan. Saya dilatih mengatur waktu, disiplin, dan kerja keras. Sistem RSBI mewajibkan kami untuk mempelajari materi dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris). Kami dilatih memaparkan dan mendengarkan presentasi berbahasa Inggris. Mempelajari bahasa Inggris tidak serumit bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan bahasa sopan santun yang tidak mudah dipelajari. Saya merasa beruntung menjadi penduduk Indonesia sehingga dapat mengaplikasikan bahasa Indonesia setiap saat.

Menginjak bangku SMA, saya mulai mencintai alam. Pesatnya teknologi informasi memudahkan saya untuk mengetahui sudut-sudut menarik di negeri ini. Menurut saya, kemajuan teknologi akan berdampak baik pada kelestarian alam karena informasi mengenai alam akan terus terekspos di media. Adanya informasi tersebut akan menggugah semangat para pemuda untuk sukarela merawat alam.

Ibarat benih, ilmu akan berkecambah bila ditebar di lingkungan yang sesuai. Faktor lingkungan menjadi penentu keberlangsungan hidup benih. Benih yang disebar tidak pada lingkungan yang sesuai akan tetap dorman, bahkan mati. Begitupun ilmu bila diterima tanpa semangat dan mental yang kuat pun akan sia-sia. Salah satu dari tiga pilar perguruan tinggi adalah pengabdian masyarakat. Saya tertarik untuk mengemban amanah yang satu ini. Saat saya di tingkat satu, saya turut serta dalam program pengembangan masyarakat. Setiap dua minggu sekali kami mengajar di sebuah SD dekat kampus. Kami mengajar bahasa Inggris untuk kelas 4,5, dan 6. Metode pembelajaran yang kami lakukan adalah berbentuk media permainan edukatif. Soal-soal bahasa inggris kami kemas dalam bentuk permanian, harapannya agar anak-anak tidak bosan dan materi lebih mudah diingat.
Berawal dari pengalaman tersebut, saya ingin lebih jauh mengabdi di bidang pendidikan untuk anak-anak khususnya di daerah pelosok. Selain mengajar, saya bisa mengeksplorasi alam di daerah tersebut. Berbekal ilmu pertanian yang saya pelajari di Institut Pertanian Bogor, saya ingin menyosialisasikan cara bertani yang efisien untuk daerah-daerah marjinal. Saya harap Beasiswa Bazma Pertamina dapat membantu saya melalui program pelatihan pengembangan diri untuk memilih strategi yang tepat.

Karena, alam tidak pernah salah memilih penjaganya.

Share this:

CONVERSATION

0 komentar :

Posting Komentar