I’m At The Crossroad of My Life
Cerita Aku “Si Anak Mistis” (agak ngaco emang judulnya.
Wkwk)
Haha. Sebuah percakapan singkat via media sosial yang
membuatku tertawa dan menertawai diri sendiri. Betapa mistisnya aku! Dan,
mengapa aku baru sadar?
Dia (temanku) : “Kik, kok dari tadi online mulu?”
Aku : “Haha iya. Internet lagi kesetanan. Lumayan, dimanfaatin. Wkwk.”
Dia : “Lagi ngapain emang? Download film?”
Aku : (Duh, boro-boro download film -_-) “Lagi refreshing bentar.”
BLA ... BLA ... BLA ...
Aku : “Eh, udahan yaa.. aku mau les ini.”
Dia : “Les apaan jam segini?” (saat itu waktu menunjukkan pukul 23.08 WIB)
Aku : “Ya les persiapan SBMPTN lah!”
Dia : “Jam segini? Les di mana? Di alam mimpi?”
Aku : “Enak aja. Alam nyata lah! Di rumah aja kok. Males amat jam segini keluar rumah.”
Dia : “Lah, emang ada guru yang mau ke rumahmu jam segini? Rumahmu kan di tengah hutan. Di lorong gelap. Emang ada yang mau?”
Aku : “Ada dong. Guru-guruku lulusan UI sama ITB. Mereka profesional. Rintangan apapun mereka terjang demi menebarkan ilmu.”
Dia : “Serius? Kenapa harus jam segini? Emang siang nggak bisa?”
Aku : “Otakku baru bisa bekerja optimal di jam-jam segini.”
Dia : “Terus mereka mau-maunya nurut sama kamu?”
Aku : “Ya mau dong. Wkwk. Udah, nggak usah banyak tanya! Kalau kamu mau ikut, sini aja... “
Dia : “Serius aku boleh ikut? Kalau emang bener gurumu lulusan UI sama ITB, aku pingin ikut ...”
Aku : “Dengan senang hati kami akan menerimamu.”
Dia : “Cakep-cakep nggak?”
Aku : “Nggak tahu. Aku nggak bisa lihat orangnya, cuma bisa dengar suaranya.”
Dia : “Hei... Jangan mistis gitu lah! Parno gue!!!!”
Aku : “Mistis apanya? Nggak ada mistisnya sama sekali.”
Dia : “Lha itu? Hei ... Kamu sehat kan? Jangan berkhayal lah! Sadar, Kik! Sadar!”
Aku : “-_-“
***
Aku : “Haha iya. Internet lagi kesetanan. Lumayan, dimanfaatin. Wkwk.”
Dia : “Lagi ngapain emang? Download film?”
Aku : (Duh, boro-boro download film -_-) “Lagi refreshing bentar.”
BLA ... BLA ... BLA ...
Aku : “Eh, udahan yaa.. aku mau les ini.”
Dia : “Les apaan jam segini?” (saat itu waktu menunjukkan pukul 23.08 WIB)
Aku : “Ya les persiapan SBMPTN lah!”
Dia : “Jam segini? Les di mana? Di alam mimpi?”
Aku : “Enak aja. Alam nyata lah! Di rumah aja kok. Males amat jam segini keluar rumah.”
Dia : “Lah, emang ada guru yang mau ke rumahmu jam segini? Rumahmu kan di tengah hutan. Di lorong gelap. Emang ada yang mau?”
Aku : “Ada dong. Guru-guruku lulusan UI sama ITB. Mereka profesional. Rintangan apapun mereka terjang demi menebarkan ilmu.”
Dia : “Serius? Kenapa harus jam segini? Emang siang nggak bisa?”
Aku : “Otakku baru bisa bekerja optimal di jam-jam segini.”
Dia : “Terus mereka mau-maunya nurut sama kamu?”
Aku : “Ya mau dong. Wkwk. Udah, nggak usah banyak tanya! Kalau kamu mau ikut, sini aja... “
Dia : “Serius aku boleh ikut? Kalau emang bener gurumu lulusan UI sama ITB, aku pingin ikut ...”
Aku : “Dengan senang hati kami akan menerimamu.”
Dia : “Cakep-cakep nggak?”
Aku : “Nggak tahu. Aku nggak bisa lihat orangnya, cuma bisa dengar suaranya.”
Dia : “Hei... Jangan mistis gitu lah! Parno gue!!!!”
Aku : “Mistis apanya? Nggak ada mistisnya sama sekali.”
Dia : “Lha itu? Hei ... Kamu sehat kan? Jangan berkhayal lah! Sadar, Kik! Sadar!”
Aku : “-_-“
***
Pufft ...
Sebelum kalian tenggelam ke dunia mistisku selanjutnya, aku
mau kasih wasiat dulu nih :
Gagal masuk PTN
Entahlah ... energiku habis setelah membaca artikel itu. Aku harus bersyukur dengan cara apa lagi? Aku beruntung banget bisa ketemu artikel itu disela-sela ke(sok)sibukanku menjelajah dunia maya.
Entahlah ... energiku habis setelah membaca artikel itu. Aku harus bersyukur dengan cara apa lagi? Aku beruntung banget bisa ketemu artikel itu disela-sela ke(sok)sibukanku menjelajah dunia maya.
Mau ke mana aku setelah SMA?
Mau jadi apa aku?
Telat banget pertanyaan itu muncul di pikiranku saat liburan
masuk semester enam. Kenapa enggak dari dulu? Argh. Nilai buat SNMPTN sudah
siap terbit. Nilai yang masih polos, nggak ada kisah perjuangan sama sekali
dari nilai itu. Argh.
Okay. Move On!
Aku harus mencari impian baru yang bisa memacu semangatku belajar. Harus!
Saat itu juga, aku melepas impianku (Gizi-IPB) karena aku sadar diri, aku
kesulitan dalam hal hapalan. Aku memang kurang suka dengan pelajaran hapalan.
Aku merasa kurang cocok menekuni bidang kesehatan.
Aku pergi ...
Aku mencari yang lain ...
Aku mencari yang lain ...
FOUND!
Entah, aku tidak bisa mendeskripsikan betapa bahagianya aku
menemukan impian baru. Program Studi yang langsung fokus ke bidang yang aku
minati. Alhamdulillah.
Sayangnya, di Indonesia, prodi tersebut kurang populer. Hanya dimiliki oleh dua
universitas besar di Indonesia. Yang satu terakreditasi A, yang satunya masih
B. Wow. Aku harus mengejar yang terakreditasi A!
Hebatnya, yang terakreditasi A ialah dimiliki oleh ... universitas tertua di
Indonesia.
Universitas Indonesia.
Parah, anak kurang rajin seperti aku mau ngejar UI?
Alhamdulillah, dengan hadirnya impian baru, I was reborn. Aku jadi rajin belajar. Aku jadi senang belajar. Dan, terima kasih, zenius ... aku jadi tahu bedanya antara study dan learning.
Alhamdulillah, dengan hadirnya impian baru, I was reborn. Aku jadi rajin belajar. Aku jadi senang belajar. Dan, terima kasih, zenius ... aku jadi tahu bedanya antara study dan learning.
Aku langsung kerja keras memahami konsep dan teori selama
dua bulan. Jujur saja, sebelum ini, aku bukanlah anak yang suka belajar.
Sekalinya ikut les, menjadi pengalaman les pertama dan terakhir di SMA. Btw,
aku ikutnya les persiapan UN #Kesalahan pertama. Harusnya aku ikut yang buat
persiapan SBMPTN, tapi sayang sekali ... belum ada. Semua fokus ke UN.
Kenyataannya, nilai UN hanya sebagai pajangan di ijazah. -_-
Merasa nggak ngerti apa-apa.
Merasa nggak PeDe.
Merasa diri tidak pantas.
Sadar kalau nggak ngerti konsep sama sekali.
Hmmm semua perasaan itu pernah muncul (bahkan sering) yang seakan-akan menarikku untuk mundur saja.
Pasrah ... ikut SNMPTN dengan nilai seadanya.
But, ... They supported me. Thank you! Entahlah, aku harus
berterima kasih dengan cara apa lagi.
Terima kasih buat semua teman-teman yang telah mensuport
saya. I love you all. Dalam hal ini, peran orang tua dan teman sangatlah besar. Semua pencapaianku tak lepas dari doa mereka. Alhamdulillah. Aku bahagia memiliki kalian semua ...
Bulan Maret aku mulai aktif mengerjakan soal-soal SBMPTN.
Yang tadinya aku kesulitan belajar biologi karena banyak hapalannya, berkat
zenius ... biologi aku jadikan fokus SBMPTN. Terima kasih atas bimbingan dan
curhatan Bang Pras ...
KIMIA. Yang tadinya aku kira ilmu ghaib modern. Haha (jujur,
dulu aku kurang suka banget sama kimia). Namun, kini aku semakin ketagihan
ingin mempelajarinya lebih lanjut, terima kasih Kak Yoki ...
FISIKA. Ini ilmu paling asyik yang pernah hadir di muka bumi
ini. Nggak ada habisnya bahas fisika. Walaupun aku kurang begitu pintar, tapi
aku selalu semangat kalau bahas fisika. Memang agak sulit kalau belum tahu
konsep, jangan lelah memahami konsep! Terima kasih Bang Wisnu dan Bang Sabda
...
MATEMATIKA. Haha.
Ini adalah soal yang berhasil menyulut semangatku. Betapa
sebenarnya matematika itu sangat sangat mengasyikkan. Aku menyesal selama ini
telah memandang sebelah mata pelajaran ini. Aku mengira matematika itu kurang
berguna di kemudian hari. Tapi ternyata aku salah besar. Matematika adalah
pondasi berbagai ilmu. It creates our Intelligences.
WAJIB DITONTON!
Bukan bermaksud promosi, aku bukan salah satu official crew
mereka. Aku hanya customer yang merasa sangat terbantu oleh Zenius.net. ckck.
Wkwkwk.
Tiga bulan berjuang hanya ditemani zenius.net . Ini
serius, aku nggak les/bimbel di luar. Jadi, sering merasa bosan karena belajar
sendirian. Sedih, betapa tidak enaknya hidup dalam kemistisan. Sepi. Bosan.
Sedih.
Tapi, sekalinya aku kasih tahu teman-temanku tentang zenius,
mereka langsung tertarik. Alhasil, aku tidak kesepian lagi. Mendadak, rumahku
jadi base belajar SBMPTN bersama. Rame. Asyik. Bahkan, sampai malam kami masih
betah berhadapan dengan layar elektronik. Terima kasih, Zenius.
Kami pun berjuang bersama-sama meraih kampus impian. Berkat
zenius, kami dipersatukan J
Wkwkwk.
SBMPTN.
DONE.
Aku diterima di pilihan kedua. Institut Pertanian Bogor.
Sedikit sedih memang, tapi udah bersyukur banget.
Perjuanganku terbayar sudah. Mengingat persentase kelulusan SBMPTN yang
berkisar 15% setiap tahunnya, aku merasa beruntung banget.
Ya, walaupun di pilihan kedua, setidaknya aku pernah baca
artikel ini
Alhamdulillah ... nasibku terselamatkan J
Terima Kasih Zenius J
