Kemarin, Mentari Bercerita Kepadaku...
Mentari.
Entah siapa ia, yang ku tahu ia adalah sosok sahabat. Kata orang, sahabat ialah sosok yang selalu
menemani kita di kala susah dan senang. Dan jelas, satu-satunya yang berlaku
demikian kepadaku ialah mentari. Entah, mengapa ia begitu baik? Sangat baik
bagiku. Namun, mengapa ia begitu jauh? sangat jauh.. aku tak kuasa memeluknya.
Siang dan
malam. Dua kata misterius yang berhasil ia ciptakan. Dua kata yang menyimpan
berjuta kata. Dan lebih dari itu.. dua kata itulah yang memperkenalkanku pada
Sang Penguasa.
***
Ku kira,
aku hanya seorang diri diantara heningnya siang, di saat orang-orang sibuk
mempertanyakan masa depan. Mereka tak melihatku yang terkulai lemah di tengah
kerumunan ini. Mereka sibuk. Ya, sangat sibuk. Kepada siapa aku harus
mempertanyakan masa depanku? Beribu kali aku tanyakan itu. Entah, kepada siapa
aku bertanya.. sekeras apapun suaraku.. tetap tak ada jawaban. Bahkan, tak
seorangpun mendengar. Mereka sibuk. Dan aku sudah lelah. Sial, aku lelah tanpa
mendapat apa-apa, aku belum berjuang. Aku terpejam, terbenam dalam cercaan.
Aku masih
sama. Terbenam dalam kegelapan, kegelapan yang aku pilih sendiri. Seketika, aku
merasa seperti ada yang menarik pergelangan tanganku.. tapi tidak! Hanya
hembusan angin. Angin lewat. Mana ada yang perduli padaku? Dasar anak kecil!
Aku mulai tak tahan dengan kegelapan.. aku buka bola mata ini. lagi-lagi
seperti ada yang merangsangku.. tapi siapa? Aku tak tahu! Kali ini hatiku
berdesir, Indahnya jauh dari kegelapan.. indahnya warna-warni kehidupan.
Terimakasih, Tuhan! Kau bekali aku dua bola mata.. harta yang sungguh luar
biasa. Akan ku jaga!
Aku
paham! Memang ada yang menarikku.. aku tahu siapa dia!
Aku
bangkit dari lamunan. Aku belum lelah! Aku harus melangkah! Terima kasih,
Tuhan! Kau beri aku jalan.. aku tak sendirian. Ada aku, Kau, dan cahaya itu...
Mentari..
cahaya itu bernama mentari. Sangat menawan.. aku sangat mengaguminya. Terima
kasih, Mentari! Kau beri aku penerangan.
Dan aku..
tinggallah aku yang memilih, ke arah mana jalan yang akan ku tempuh..Terima
kasih, Semua! Kini aku paham. Masa depan bukan tuk dipertanyakan, tapi tuk
berjalan! Semoga aku tak salah pilih jalan. Aku tak ingin tersesat! Mentari,
temani aku! Aku takut melangkah seorang diri.
“tak
percayakah kau kepadaku?” bisik suara itu.
“Hai
mentari, aku takut kau meninggalkanku. Yang aku punya hanya kau! Bersediakah
kau berjanji tuk jadi sahabatku?”
“Kau
tidak akan sendirian! Percayalah! Kau masih terlalu kecil tuk bermain janji!
Sebenarnya kau belum mengerti apa itu janji. Belajarlah meresapi arti kata! Di
sanalah harta yang sebenarnya terpendam. Jangan asal meluncurkan kata! Pastikan
kata yang kau luncurkan itu pedang, bukan boomerang!”
Aku
bersimpuh, bertapa kecilnya aku, betapa manjanya aku. Aku malu pada teman
baruku, pantaskah aku berteman dengannya? Beruntungkah dia yang begitu agungnya
mempunyai teman sepertiku?
“aku
hanya tak ingin kehilangan engkau, Mentari! Ku harap kau mengerti!” pintaku
dalam hening.
“Kau
kenal Sang Penguasa, kan? Hanya kepada-Nya kau seharusnya meminta! Bukan
kepadaku! Aku terlalu lemah untuk itu. Hhmm, untuk menjadi sahabatmu? Lagi-lagi
aku ragu tuk mengiyakan. Karena, hanya kau yang bisa menilai dan memaknai
kehadiranku. Kau sendiri yang bisa menikmati hangatnya sinarku, bukan panasnya
sinarku!”
Kali ini
terasa ada yang mengalir di wajahku.. entah keringat, air hujan, ataukah air
mata? Aku tak perduli. Aku hanya ingin di sini, di pangkuan sang mentari. Ia
tak lagi berbicara. Aku pun terdiam. Inilah waktuku tuk berpikir! Bukan
mengeluh! Dan kini aku sibuk tuk berpikir.
Lambat
laun suasana terasa gelap. Memang gelap. Sahabatku... kemanakah ia pergi? Aku
takut gelap! Kenapa dia meninggalkanku? Dan sekarang aku benar-benar menangis
sorang diri. Memang tak ada yang perduli padaku. Anak kecil yang tak
berpengetahuan! Ini malam hari, wajar bila mentari pergi! Dia lelah! Dia butuh
istirahat! Betapa egoisnya aku! Wahai Tuhanku.. Sang Penguasa alam! Kembalikan
mentariku! Aku takut gelap! Aku benci malam! Aku yakin Kau menedengarku. Aku
tahu Kau Maha Mendengar. Maha Segalanya. Lindungi aku, Tuhan! Aku takut gelap.
Lampion-lampion itu sungguh mengerikan, seakan-akan berlomba menunjukkan cahaya
siapa yang paling terang. Tak ada kehangatan dan kasih sayang yang terpancar. Dingin
sekali. Kuputuskan berkelana ke luasnya lautan mimpi. Kurebahkan sayap-sayap
lemahku di sudut yang cukup gelap. Tempat yang cukup nyaman, terhindar dari
amukan masa, namun terkurung hawa dingin yang luar biasa.
Aku
merasakan jeweran lembut jari-jari ibuku. Sakit! Sakit sekali! Telingaku
memerah. Namun aku tak kunjung jera. Sungguh aku menikmati sentuhan ini. Tak
lama, pintu berdesit terbuka. “Ayah!” teriakku girang seraya menghampirinya. Memeluknya.
Kucium tangan ayahku seperti yang diajarkan oleh Ibu. Senang sekali! Aku mendapat
dua keping permen. Permen yang tak asing lagi bagiku, sudah menjadi rutinitas
ayah membawakanku permen yang ia dapat dari karyawan kios fotokopi di sudut
pertigaan jalan. Permen yang mereka sediakan sebagai nilai kembalian pengganti
uang receh. Sungguh permainan ekonomi yang cerdik lagi menguntungkan bagiku.
Dan kini aku rindu masa-masa itu.
Lagi-lagi
aku bermimpi. Lagi-lagi mereka menemuiku, membelaiku dan memelukku seraya
menghias bunga tidurku. Lagi-lagi aku merasakan murka ibu karena rengekanku, kali
ini beliau benar-benar murka. Dan lagi-lagi aku harus terima bahwa itu “hanya
mimpi”.
Kabar baiknya,
gema itu berhasil meredam amarah ibu. Lebih dari itu, gema itu telah
melenyapkan semuanya. Gema itu telah menyelamatkanku dari isak kepedihan masa
lalu. Itulah alasan mengapa aku benci malam.
***
Sang Fajar
telah menyapaku. Namun, sinarnya lenyap diantara lampion-lampion itu. Sang
Fajar yang malang, sinarmu yang temaram tak mampu memukau banyak insan di tanah
ini. Hanya sebagian kecil yang bersedia menjamumu. Merekalah orang-orang
terpilih. Aku bahagia karena aku termasuk diantara mereka. Kupandangi raut
wajah Sang Fajar. Terpancar jiwa rendah hati yang berwibawa lagi sangat
sederhana.
“Untuk
apa tampil menawan, jikalau aku terus-menerus gagal memikat mereka. Aku sudah
lelah. Tak ada gunanya aku bersolek ria” Ia pun berlalu.. menjauh. Kasian Sang
Fajar.
Air suci
ini telah membasuh kenangan-kenangan malam tadi. Di surau kecil ini aku mendengar lantunan ayat-ayat suci yang
amat merdu. Aku bersimpuh. Aku meminta. Aku berserah diri. Aku memahami betapa
kecilnya aku. Hatiku berdesir. Lantunan itu sungguh merdu. Sungguh.
Ku langkahkan
kaki menjauh dari surau ini “Aku akan kembali dengan keadaan yang lebih baik”
gumamku.
Aku perlu
berpikir. Kusandarkan tubuhku di bawah pohon yang teramat tua nan terlihat
sangat renta. Pastilah pohon ini menyaksikan banyak sekali peristiwa yang
membuatnya bertahan kokoh. Tetap kokoh hingga saat ini. Mungkin ia ingin
bercerita..
Aku terdiam, menanti kehadiran sepatah-dua patah ilham. Namun, pohon ini tetap diam, mungkin aku terlalu kecil untuk ia ajak bercengkrama, atau mungkin ia enggan mengingat masa lalu. Yang jelas, aku tak ingin mengusiknya. Aku hanya ingin singgah sebentar, barangkali tiga puluh menit. Sampai aku benar-benar siap berjalan.
Aku terdiam, menanti kehadiran sepatah-dua patah ilham. Namun, pohon ini tetap diam, mungkin aku terlalu kecil untuk ia ajak bercengkrama, atau mungkin ia enggan mengingat masa lalu. Yang jelas, aku tak ingin mengusiknya. Aku hanya ingin singgah sebentar, barangkali tiga puluh menit. Sampai aku benar-benar siap berjalan.
Sinar itu
perlahan menembus sela-sela dedaduan dari pohon yang kusinggahi.
“Mentari... kau kah itu?”
“Mentari... kau kah itu?”
Ya,
mentari menghampiriku. Dia tersenyum. Sangat menawan.
“Hai
sahabat!” sapaku girang menyambutnya. Namun, ia hanya tersenyum tanpa mengurai
kata.
“Mentari,
aku merindukanmu!”
“Tadi
malam, Ayah dan Ibumu menitipkan salam untukmu.”
“Benarkah?
Kau bertemu dengan mereka? Bagaimana mungkin? Jelas-jelas kau semalam pergi ke
tempat yang teramat jauh. Bagaimana mungkin mereka menemuimu? Kemanakah semalam
kau mentari? Tolong beri tahu aku! Aku sangat membutuhkanmu! Aku tak bisa jauh
darimu!”
Namun,
lagi-lagi ia hanya tersenyum.
Mungkin mentari
tak suka dengan sikapku. Aku harus lebih tenang. Harus lebih bijaksana dalam
mengambil sikap. Tak bisa seenaknya membombardir pertanyaan. Harus sopan.
“Mentari,
bisakah kau pertemukan aku dengan kedua orang tuaku? Aku mohon.. aku sangat
merindukan mereka”
“Semalam
Sang Dian yang mengatakannya. Dia tak sanggup mengatakannya langsung kepadamu,
karena kau sendiri belum mengenalinya. Lantas, dia menitipkan salam mereka
kepadaku. Kini, salam ini telah kusampaikan. Silakan lanjutkan perjalananmu,
Nak!”
“Sang
Dian? Siapakah dia?” aku bertanya lirih sekali, seperti bertanya pada diri
sendiri. Namun, aku yakin mentari mendengarku. Lagi-lagi ia hanya tersenyum.
“Terima kasih, Mentari!”
“Terima kasih, Mentari!”
Ia hanya
tersenyum. Lantas bercengkrama dengan insan yang lain.
“Sang
Dian?” nama yang tak asing. Tetapi siapa? Apakah ia dekat dengan ayah dan ibu?
Butuh
lima belas menit hingga aku ingat. Ya, kini aku ingat, nama itu pernah muncul
di dongeng ibuku.
“Sang
Dian”
Aku
membutuhkanmu, kau pasti bisa menyampaikan salam rinduku tuk kedua orangtuaku. Aku
harus menemuimu. Tolong jangan sembunyi..
“Terima
kasih, Mentari.. kau telah bercerita banyak hal kepadaku. Hingga aku mengerti
hal yang jauh dari jangkauan logikaku. Aku tak akan mengusikmu lagi. Kini, saatnya
aku melangkah. Aku akan mencari Sang Dian seorang diri. Maafkan keangkuhanku,
aku hanya tak ingin membebanimu, kau telah begitu baik padaku. Sekali lagi,
terima kasih mentari! Kau sahabatku! Aku akan kembali ke pangkuanmu dengan
keadaan yang lebih baik. Aku kelak akan menceritakan kisah perjalananku. Semoga
kau tak kecewa.”
0 komentar :
Posting Komentar